Gowa, 5 Februari 2026 — Himpunan Mahasiswa Islam sebagai salah satu Organisasi tertua di Indonesia hari ini telah menyandang usia yang ke 79 tahun, sehingga tidak sedikit kader, partisipan, maupun simpatisan yang merasa punya hubungan terhadap HMI akan ikut merayakan dengan cara yang berbeda – beda.

Sebagai salah satu kader yang merasa hidupnya banyak berkembang dan berubah akibat radiasi HMI, saya tentu sangat senang dan turut berbahagia ditengah tapak tilas HMI yang kerap mendapat Penghinaan, Intimidasi bahkan ancaman untuk dibubarkan, Namun nyatanya HMI masih dapat berdiri dan berjalan sampai hari ini.

Maka dalam memperingati sekaligus merayakan momentum eksistensi HMI pada usia yang cukup senja ini, saya berinisiatif menyajikan risalah kecil ini sebagai hadiah yang diharapakan mampu untuk membawa manfaat dan perubahan terhadap HMI dalam beberapa Dasawarsa kedepan.

Didalam tulisan ini saya membagi 3 sub pembagian pembahasan yang meliputi : Penurunan / Kemunduran HMI (Degradasi), Asal dan Penyebab Degradasi (Eksplanasi) dan Upaya untuk Mengembalikan HMI Ke dalam Khittah Perjuangannya (Reformasi)

DEGRADASI : PENURUNAN DAN KEMUNDURAN HMI

SDM , KOGNITIF, DAN PENGABDIAN

Harus kita akui sumber daya manusia yang ada didalam himpunan mahasiswa islam hari ini, sangat jauh dan berbeda dengan beberapa dasawarsa yang lalu. Kenyataan tersebut dapat dinilai dari berbagai hal termaksud dalam bidang kognitif.

Jika dahulu kader HMI kerap menjadi patron atau role model intelektual yang memprakarsai suatu gagasan, kini hanya menikmati dan ikut membanggakan pencapaian masa lalu tanpa menciptakan suatu pembaharuan. Bahkan yang lebih tragis tidak sedikit yang menjadi korban inflitrasi melalui sikap FomonyaKemunduran SDM didalam tubuh HMI juga dapat dilihat dari keterbatasan kader yang mengisi setiap sudut ruang pembelajaran. didalam tubuh perkaderan HMI sendiri, keterbatasan pemateri yang memumpuni dalam suatu bidang pengetahuan adalah suatu keniscayaan multak penurunan terhadap bidang sumber daya manusia.

Ke-alfaan kader HMI dalam mengisi ruang kompetitif berbasis pengetahuan juga merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. jika dahulu setiap kemenangan tidak pernah berjarak dengan kader HMI, kini sebaliknya, setiap perlombaan tidak lagi mengenal HMI sebagai labolatorium yang melahirkan tunas berkompenten.

Pengabdian kader terhadap masyarakat juga sudah sangat berjarak dan sepi, hal tersebut ditandai dengan tidak adanya keterlibatan program SDM yang berkepanjangan dan membawa pengaruh dan hasil yang matang bagi masyarakat, yang ada ialah program momentuman dan reaksioner untuk mendapatkan perhatikan publik, bukan sebagai langkah perjuwudan untuk Kembali kepada Khittah perjuangan HMI.

KEPERCAYAAN PUBLIK

Dalam beberapa kesempatan saya melihat HMI juga sudah mengalami Degradasi Kepercayaan dari berbagai lapisan maupun tingkatan, baik Internal Kader HMI, Mahasiswa, dan Masyarakat . hal tersebut dapat ditemukan dalam beberapa kenyataan yang saya uraikan dibawah ini.

Penurunan Keperayaan dalam tubuh kader HMI Sendiri dapat ditemukan dengan bergai keluhan kader, terkhusus mereka yang dibina dengan metodologi ‘’Ternak Ayam’’. Beberapa dari Kader yang telah mengikuti Maperca maupun Basic Training merasa mengalami Stagnisasi yang disebabkan tidak adanya kegiatan lanjutan setelah mengikuti kegiatan LK I. Seolah mereka merasa seperti anak ayam yang diberi makan lalu dilepas.

Tidak adanya perhatian serius dari berbagai pelaksana Training terhadap pengembangan Kader yang telah mengikuti Maperca maupun LK I membuat HMI Kehilangan Kepercayaan bagi Kadernya sendiri sekaligus berpotensi melahirkan kekecewaan yang berkepenjangan dan menciptakan pilihan untuk meninggalkan HMI serta mencari wahana baru yang sesuai dengan arus keinginan kader tersebut.

Disisi lain, penurunan kepercayaan terhadap HMI dalam tatanan mahasiswa dapat dilihat dari jumlah peserta setiap komisariat yang mengadakan maperca maupun basic trainig (LK I). dalam setiap tahun mengalami kemunduran kuantitas, yang lebih pahit ialah pada saat dibandingan dengan beberapa Organisasi yang baru berdiri belakangan ini telah mengamini kemenangan atas kuantititas dalam proses Recruitmen dibanding HMI yang berdiri 1947.

Kendati HMI tidak hanya memandang sebuah kuantitas belaka, namun penurunan terhadap minat seorang mahasiswa yang ingin bergabung perlu dijadikan bahan refleksi atas kepercayaan mahasiswa terhadap HMI sebagai pilihan mereka untuk berproses, bukan sekedar membenarkan diri telah memaksimalkan sesuatu serta berlagak HMI tidak membutuhkan mereka.

Terakhir, penurunan kepercayaan terhadap HMI yang paling dirasakan adalah kepercayaan Masyarakat terhadap HMI itu sendiri, menurut saya adalah satu satu hal yang menarik jika kita perhatikan dalam beberapa kesempatan saat HMI Mencoba untuk mewakili Aspirasi maupun keluhan yang mengatasnamakan Masyarakat, justru seolah tidak mendapatkan Support Maupun Restu dari Masyarakat itu sendiri.

Hal tersebut dapat kita temukan dalam berbagai penyelenggaraan Aksi Demonstrasi. Ditengah luapan emosi kader melalui sirine maupun mimbar jalan yang mengatasnamakan Rakyat, justru sebaliknya beberapa Rakyat sendiri merasa resah dan memilih diam saat terjadi Tindakan represifitas oleh oknnum yang mencobai mencederai Gerakan. Kejadian tersebut sangat berbanding terbalik dengan Responitas Masyarakat 1998 terhadap Mahasiswa maupun HMI.

Terlepas dari Upaya Kapitalisme jejaring mapun pemerintah yang mencoba mencederai Gerakan tersebut, satu kejanggalan yang pasti dan menarik untuk dijadikan bahan pembelajaran dan refleksi ialah penyebab sikap pasif Masyarakat terhadap delegasi mereka, sehingga saya berkesimpulan mereka belum sepenuhnya sadar dan percaya kepada perjuangan yang dibawa oleh HMI maupun Kelompok yang lain.

EKSPLANASI : Analisis Terhadap Penyebab Degradasi HMI

Menurut saya, penyebab penurunan maupun kemunduran HMI terhadap SDM dalam Bidang Kognitif, Pengabdian Maupun Kepercayaan Publik adalah bukan hal yang berlangsung secara tidak sengaja atau sekedar mengucapkan ‘’Karena Sudah Zamannya’’. Pernyataan tersebut hanya membuat kita berciri khas Pasif yang dikendalikan oleh zaman dan bukan sebaliknya.

‘’Tidak ada asap tanpa api’’ adalah istilah pepatah yang sangat tepat untuk menjelaskan penyebab HMI menempati keadaan tersebut, menurut keyakinan saya ada beberapa hal yang menghilhami HMI mengalami suatu Degradasi diantaranya :

Pertama, detonator yang menyebab krisis kader dalam wilayah kognitif ialah dominasi kader yang lebih menitikberatkan aspek politik dan menghadirkan garis demarkasi dengan ilmu pengetahuan, hal tersebut dapat ditemukan melalui prioritas beberapa kader dalam mengorganisir massa secara serius selagi berbaur dengan finansial maupun hal instan yang membuat cara pandang dan konstruksi nilai menjadi Pragmatis secara mengakar.Sehingga proses pembelajaran tidak lagi dijadikan sebagai upaya kewajiban dan kebutuhan dasar bagi setiap kader sebelum menempuh minat dan bakatnya masing – masing. Sedangkan urgenitas Ilmu Pengetahuan sebagai landasan dalam melakukan sesuatu tidak hanya dititik beratkan oleh Teologi tetapi tertera dengan jelas dan dititik beratkan oleh Pedoman dasar HMI yaitu ‘’Nilai-nilai dasar Perjuangan’’.

Kedua, dampak kelanjutan dari sikap abai dan antipati terhadap ilmu pengetahuan membuat setiap kader tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. hilangnya sikap tanggung jawab terhadap gelar social yang dimiliki tidak lagi direspon dengan nyata. Seolah menjadi bagian dari HMI bukan lagi sebagai sebuah proses dan amanah, tetapi sudah menjadi tujuan dan ambisi pribadi untuk mencapai mobilitas vertical politik dan ekonomi.Maka, keterbatasan SDM dalam arus Perkaderan pada wilayah Kognitif, kehilangan semangat kompetitif yang berbaur dengan ilmu pengetahuan dan hilangnya kegiatan-kegiatan social yang bersentuhan langsung dengan masyarakat secara kontinu adalah merupakan keniscayaan utuh yang disebabkan dari kultural yang memprioritaskan aspek politik tanpa memberikan perhatian terhadap arena kognitif.

Ketiga, penyebab penurunan bahkan hilangnya kepercayaan kader, mahasiswa dan masyarakat terhadap HMI merupakan kelanjutan dari dampak sebelumnya. ambivalensi kader yang memilih untuk menetap atau meninggalkan HMI untuk memenuhi kebutuhan minat dan bakat pasca basic trainig adalah karena tidak adanya kegiatan berkelanjutan yang diselenggarakan dan hanya berfokus pada seremonial atau Upaya menggugurkan tanggung jawab (Pragmatis).Sehingga kesan yang dibumikan oleh beberapa kader terhadap proses mereka didalam HMI seperti ‘’Ternak Ayam’’ membawa pengaruh phobia dan nuansa yang kurang mengenakkan bagi beberapa mahasiswa. maka tidak sedikit dari mahasiswa tersebut lebih memilih untuk mengikuti organisasi yang lain sebagai wadah untuk menempa diri ketimbang harus menjadikan HMI sebagai pilihan untuk maju dan berkembang.

Selanjutnya, degradasi kepercayaan masyarakat terhadap HMI selain bersumber dari aspek kognitif juga disebebakan oleh perhatian yang lebih tertuju kepada arah teknis seperti demonstrasi yang telah disinggung sebelumnya, menurut saya satu hal yang luput dari perhatian HMI hari ini kepada Masyarakat ialah mengenai hubungan emosial sebagai syarat dan pondasi perjuanganBahwa perjuangan bukan hal yang bersifat ghaib dan tidak membutuhkan sesuatu yang materialis. pengabdian terhadap Masyarakat melalui kegiatan – kegiatan yang produktif seharusnya bisa menjadi bekal perjuangan HMI terhadap Masyarakat yang dapat melahirkan Kesadaran kolektif, Tanggung jawab Sosial dan Perasaan yang Sama. Menurut saya hal tersebut lebih realistis sebagai batu pijakan perubahan, ketimbang salah satu pihak yang mengeluarkan banyak suara sedangkan satu pihak tidak memiliki perasaan apa- apa.

REKONSTRUKSI : MENEGUHKAN KEMBALI KHITTAH PERJUANGAN HMI

Telah dijelaskan sebelumnya terkait penurunan / Kemunduran (Degradasi) dan Penyebab (Eksplanasi) yang mengakibatkan HMI mengalami kemorosotan dalam berbagai bidang. Namun bukan berarti hal tersebut sebagai akhir dari Langkah HMI dalam usia yang cukup senja. Hal tersebut bergantung kepada kerja-kerja koletif yang berbasis kesadaran setiap kader untuk membangun dan memperbaiki Kembali kapal tua yang bersejarah ini kepada arah dan tujuan dasarnya.

Dalam Epilog ini tanpa bermaksud berpretensi untuk menjadikan risalah kecil ini sebagai sesuatu yang paling benar, secara optik pribadi saya menawarkan beberapa Langkah sebagai tawaran Navigasi untuk mengambalikan HMI Kedalam Khittah Perjuangannya, Hal tersebut Diantaranya :

Pertama, Saya tidak bermaksud untuk membuat kader HMI memisahkan diri terhadap arus yang berbaur politik, tetap lebih menekankan keseimbangan antara Pengetahuan, Perkaderan dan Politik. Pengetahuan sebagai Pijakan, Perkaderan ialah Proses dan Politik sebagai Aksi. Sehingga jika salah satu kegiatan tersebut terselenggara tidak ditanggapi dengan berat sebelah, yang mengakibatkan salah satu dari bagian tersebut harus abaikan, sebab komponen tersebut memiliki korelasi yang kuat antara satu dengan yang lain.

Kedua, Menjadikan pengetahuan sebagai dasar pijakan proses tidak hanya dapat mengantarkan kepada persaingan politik. Tetapi turut menjadi bekal untuk mengisi Kembali ruang pembelajaran dalam setiap momentum kaderisasi guna melahirkan regenerasi yang berkompeten, serta menginvasi beberapa kompetitif sebagai Langkah realistis dizaman yang serba install ini untuk mengembalikan Nilai dan Citra HMI sebagai Labolatorium Ummat dan Bangsa.

Ketiga, Berkat kesadaran yang dimiliki melalui basis pengetahuan akan mendorong kita untuk menjahit Kembali hubungan HMI dan Masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang nyata dan berdampak serta tidak reksioner belaka. hal tersebut akan membangun Kembali kepercayaan dan kerja sama Masyarakat terhadap keikhlasan yang diemban setiap kader HMI dalam mengaplikasikan Tugas dan Amanat sebagai Ujung Tandu Revolusi berdasarkan Khittah Perjuangan HMI.

Dengan ini saya berharap di Usia yang ke 79 Tahun HMI semoga ada banyak perubahan dari berbagai refleksi dan intropeksi. dapat lebih baik dan menjadi organisasi yang bermanfaat sepanjang Sejarah.

Yakin Usaha Sampai !!!

Muh Arya Dwi Madaprama / 05 Februari 2026