LAPAGALA.COM, MAKASSAR — Ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran di sektor logistik dan perdagangan global. Meski dampaknya belum terasa langsung di daerah, pelaku usaha ekspor-impor menilai situasi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan serius jika konflik terus berlanjut.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Bidang Fiskal dan Kepabeanan, Arief R. Pabetting, mengatakan hingga dua pekan setelah eskalasi konflik, pelaku usaha masih mencermati perkembangan situasi.

Menurutnya, ketegangan di kawasan Selat Hormuz membuat banyak negara mulai bersiaga karena jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi distribusi energi dunia.

Ia mengingatkan bahwa situasi ini berpotensi memicu krisis energi apabila konflik berlangsung lama, terlebih sejumlah negara memiliki cadangan bahan bakar yang terbatas.

“Semua pemerintah di berbagai belahan dunia sekarang masih menjaga-jaga. Ada negara yang cadangan BBM-nya bisa sampai ratusan hari, tapi ada juga yang di bawah 50 hari. Kalau konflik terus berlangsung, ini tentu menjadi sinyal yang tidak baik,” ujarnya.

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati wilayah tersebut, sehingga setiap gangguan di kawasan itu dapat langsung memengaruhi pasokan energi serta harga minyak dunia.

Lonjakan harga minyak menjadi salah satu dampak yang mulai terasa di pasar global. Ketika pasokan energi terganggu dan harga bahan bakar meningkat, dampaknya dapat merembet ke sektor industri dan perdagangan internasional.

Arief menjelaskan bahwa bahan bakar minyak merupakan sumber energi utama bagi berbagai sektor ekonomi. Jika pasokan terganggu, aktivitas industri di sejumlah negara dapat melambat dan pada akhirnya memengaruhi perdagangan ekspor-impor.

“Kalau supply energi terganggu, industri di berbagai negara bisa melambat. Dampaknya akan langsung terasa pada perdagangan global, terutama ekspor dan impor,” katanya.

Pemerintah Indonesia sendiri disebut terus memantau perkembangan situasi global dan memastikan ketersediaan energi dalam negeri tetap aman. Upaya menjaga cadangan energi dilakukan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi apabila terjadi gangguan pasokan global.

Meski demikian, pelaku usaha logistik menilai dampak tidak langsung sudah mulai terlihat, terutama pada jalur pengiriman barang menuju kawasan Eropa dan Afrika.

Arief menjelaskan bahwa kapal logistik yang biasanya melintasi jalur Timur Tengah berpotensi mengubah rute perjalanan untuk menghindari wilayah konflik. Kapal harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, sehingga waktu tempuh menjadi lebih panjang.

Perubahan jalur tersebut berimplikasi pada meningkatnya biaya logistik. Konsekuensinya, harga barang yang sampai di negara tujuan juga berpotensi mengalami kenaikan.

“Kalau kapal harus memutar jalur, otomatis biaya logistik naik. Pada akhirnya harga barang di negara tujuan juga ikut naik,” ujarnya.

Untuk saat ini, Sulawesi Selatan belum merasakan dampak langsung dari konflik tersebut. Namun pelaku usaha tetap memantau perkembangan situasi karena gangguan energi global dapat memicu efek domino terhadap industri dan perdagangan.

Arief berharap konflik yang melibatkan sejumlah negara besar tersebut dapat segera mereda. Menurutnya, stabilitas energi dunia sangat bergantung pada terciptanya perdamaian di kawasan tersebut.

“Kalau energi terganggu, semua sektor ikut terdampak. Industri bisa berhenti, logistik terganggu, dan ekonomi dunia ikut goyah. Karena itu sangat diharapkan semua pihak bisa duduk bersama dan menghentikan perang ini,” tutupnya.