LAPAGALA.COM, MAKASSAR — PSM Makassar kembali menghadapi masalah serius di luar lapangan. Klub berjuluk Juku Eja itu dijatuhi sanksi registration ban oleh FIFA yang tercatat muncul pada 20 Maret 2026.

Berdasarkan data yang diperiksa pada 24 Maret 2026, nama PSM masuk dalam daftar klub yang dilarang mendaftarkan pemain baru. Klub asal Makassar tersebut sejajar dengan sejumlah tim lain seperti PSCS Cilacap, Kalteng Putra, dan PSBS Biak yang juga terkena sanksi serupa.

Hukuman ini menjadi yang kedua dalam waktu berdekatan. Sebelumnya, FIFA lebih dulu menjatuhkan registration ban kepada PSM pada 9 Maret 2026. Dengan sanksi terbaru ini, PSM terancam tidak dapat mendaftarkan pemain baru, baik lokal maupun asing, hingga tiga periode bursa transfer.

FIFA tidak merinci penyebab sanksi tersebut. Namun, registration ban umumnya berkaitan dengan sengketa finansial, seperti tunggakan gaji pemain dan staf, maupun kewajiban pembayaran transfer yang belum diselesaikan.

Situasi ini berpotensi menghambat langkah PSM dalam memperkuat tim. Jika tidak segera ditangani, manajemen tidak memiliki ruang untuk menambah pemain baru dan hanya dapat mengandalkan komposisi skuad yang ada untuk menghadapi kompetisi mendatang.

Dampak sanksi juga tidak hanya menyentuh aspek teknis. Masalah administratif yang berulang berisiko mengganggu stabilitas internal tim, termasuk menurunkan kepercayaan pemain terhadap profesionalisme klub.

Manajemen PSM kini dituntut bergerak cepat untuk menyelesaikan akar persoalan. Penyelesaian kewajiban finansial menjadi langkah paling realistis agar embargo transfer dapat dicabut.

Sepanjang musim 2025/2026, kasus serupa tercatat sudah empat kali menimpa PSM. Meski sebelumnya dapat diselesaikan tanpa mengganggu aktivitas transfer, sanksi terbaru ini menjadi sinyal bahwa persoalan mendasar di tubuh klub belum sepenuhnya tuntas.

Bagi PSM, kondisi ini menjadi peringatan serius. Klub dengan sejarah panjang di sepak bola nasional tersebut dituntut segera berbenah agar tidak terus terjerat sanksi administratif yang dapat merusak daya saing dan reputasi mereka.