LAPAGALA.COM, MAKASSAR — Di sudut Makassar, tepatnya di depan Asrama Maritengngae—yang menjadi rumah bagi Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Sidenreng Rappang (IPMI Sidrap)—suasana malam yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi riuh penuh semangat. Pada 31 Maret 2026, pukul 18.00 WITA, pasca kunjungan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, para mahasiswa turun langsung melakukan aksi gotong royong.
Mahasiswa yang seharian bergelut dengan diktat dan aktivitas akademik kini menyingsingkan lengan baju. Mereka tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga mewujudkannya. Lahan kosong yang berada tepat di depan gerbang asrama, yang sebelumnya tampak kumuh—dipenuhi tumpukan sampah kiriman, sisa material bangunan, serta belukar liar—menjadi titik awal gerakan ini.
Kesadaran sederhana namun mendasar tumbuh dari para penghuni asrama: kenyamanan tempat tinggal dimulai dari kebersihan lingkungan.
Kegiatan pembersihan dimulai saat malam mulai turun, sengaja dipilih untuk menghindari teriknya udara kota. Dengan pencahayaan seadanya, para mahasiswa bergerak secara kolektif, berbagi peran tanpa komando yang kaku. Ada yang mengangkut sampah, menebas semak, hingga merapikan area yang mulai terbuka.
Pemandangan ini menjadi refleksi nyata dari falsafah masyarakat Sidrap: Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata—hanya dengan kerja keras yang tak henti-hentinya, maka akan mudah mendapatkan rida Tuhan.
Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, aksi ini menyimpan harapan besar. Lahan tersebut direncanakan untuk dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau yang produktif, atau setidaknya sebagai area parkir yang lebih tertata. Sebuah langkah kecil, namun berdampak besar bagi wajah asrama dan kenyamanan bersama.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa IPMI Sidrap menunjukkan bahwa kecerdasan tidak hanya diukur dari ruang kelas, tetapi juga dari kepekaan terhadap lingkungan sosial. Mereka hadir bukan hanya sebagai penuntut ilmu di kota orang, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membawa nilai, kepedulian, dan aksi nyata.


