MAKASSAR — Dialog Kebangsaan yang digelar sejumlah organisasi kampus di Etika Studio, Jalan Tamalate, Kelurahan Karunrung, Kecamatan Rappocini, Makassar, Senin malam (15/6), berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan terkait isu kebangsaan dan program pemerintah.
Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2025–2026, Tiyo Ardianto, serta Direktur Profetik Institute, Asratillah, sebagai narasumber.
Dalam forum tersebut turut hadir Ketua Karang Taruna Kota Makassar, Muhammad Zulkifli, yang menyampaikan sejumlah tanggapan terhadap pandangan Tiyo mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kepada media pada Selasa (16/6), Zulkifli menilai Tiyo belum memahami secara utuh mekanisme dan tujuan program MBG. Menurutnya, terdapat kesalahpahaman terkait besaran anggaran dan keuntungan yang diperoleh pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Dia menganggap anggaran MBG sangat besar, padahal perlu dipahami bagaimana mekanisme pengelolaannya. Saya menjelaskan bahwa keuntungan yang diperoleh pengelola berasal dari jumlah porsi yang diproduksi setiap hari,” ujar Zulkifli.
Ia mencontohkan, pada tahap awal pelaksanaan program, satu dapur SPPG dapat melayani hingga 3.000 penerima manfaat. Dengan asumsi keuntungan sekitar Rp2.000 per porsi, maka pengelola berpotensi memperoleh keuntungan sekitar Rp6 juta per hari.
Menurut Zulkifli, penjelasan tersebut disampaikan langsung kepada Tiyo dan peserta dialog untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai operasional program MBG.
Selain persoalan anggaran, Zulkifli juga menilai Tiyo terlalu fokus pada isu stunting sehingga belum melihat tujuan yang lebih luas dari program MBG.
“MBG bukan hanya soal stunting, tetapi juga bagian dari investasi sumber daya manusia Indonesia ke depan,” katanya.
Dalam diskusi itu, Zulkifli juga menggunakan analogi kendaraan untuk menjelaskan pentingnya menjaga keberlanjutan program pemerintah.
Ia menggambarkan MBG sebagai sebuah kendaraan yang membawa penerima manfaat menuju tujuan akhir. Menurutnya, jika terdapat kesalahan dalam pelaksanaan oleh pihak tertentu, maka yang perlu diperbaiki adalah pelaksananya, bukan menghentikan program secara keseluruhan.
“Kalau ada sopir yang melakukan kesalahan, jangan kendaraannya yang dihentikan atau dirusak. Yang perlu diperbaiki adalah sopirnya agar tujuan tetap tercapai,” ujarnya.
Lebih lanjut, Zulkifli mengaku sempat mempertanyakan alasan sebagian kelompok mahasiswa melakukan aksi demonstrasi terhadap kebijakan pemerintah di tengah upaya pemerintah menghadapi berbagai tantangan nasional.
Ia menyebut pertanyaan tersebut tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Tiyo selama forum berlangsung.
Menutup pernyataannya, Zulkifli berharap aktivis mahasiswa dan pemuda dapat lebih banyak terlibat langsung dalam kerja-kerja sosial di masyarakat, tidak hanya menyampaikan kritik melalui media sosial atau aksi demonstrasi.
“Kita membutuhkan anak-anak muda dan aktivis yang mampu turun langsung ke masyarakat untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa,” pungkasnya.

