Lapagala.com, Opini — Hari ini, 2 Mei, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebuah hari yang lahir dari nama besar Ki Hajar Dewantara, tokoh yang percaya bahwa pendidikan bukan sekadar proses mengajar, tetapi jalan untuk memanusiakan manusia.

Namun di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional hari ini, muncul satu pertanyaan yang ramai dibicarakan banyak mahasiswa dan masyarakat: mengapa berbagai program lain lebih cepat diprioritaskan, sementara pendidikan masih menghadapi begitu banyak persoalan?

Pertanyaan ini bukan berarti menolak bantuan sosial atau kebutuhan dasar masyarakat. Sebab makanan dan kesejahteraan tetap penting. Tetapi ada kegelisahan yang tumbuh ketika pendidikan seolah belum benar-benar ditempatkan sebagai pusat pembangunan bangsa.

Masih banyak sekolah dengan fasilitas terbatas. Masih ada mahasiswa yang kesulitan membayar kuliah. Buku mahal, akses belajar belum merata, dan budaya literasi perlahan mulai melemah. Di beberapa daerah, pendidikan masih menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.

Padahal sejak dulu pendidikan selalu disebut sebagai fondasi masa depan bangsa.

Karena itu, banyak mahasiswa dan aktivis menjadikan buku-buku seperti Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire sebagai bahan bacaan penting. Dalam buku itu, Freire mengkritik pendidikan yang hanya menjadikan murid sebagai tempat menampung hafalan. Ia percaya bahwa pendidikan harus membebaskan manusia dari ketidakadilan dan kebodohan.

Pemikiran serupa juga hadir dalam Pendidikan yang Membebaskan karya Mansour Fakih. Pendidikan, menurutnya, seharusnya melahirkan keberanian untuk berpikir kritis, bukan sekadar tunduk pada keadaan.

Sementara itu, Catatan Seorang Demonstran mengajarkan bahwa mahasiswa bukan hanya penonton dalam perjalanan bangsa. Lewat tulisan-tulisannya, Soe Hok Gie menunjukkan bagaimana kegelisahan terhadap ketidakadilan dapat berubah menjadi suara perlawanan dan kepedulian sosial.

Begitu pula dengan Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno yang membakar semangat perjuangan, persatuan, dan keberanian untuk bermimpi tentang bangsa yang lebih baik.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi bersama. Bahwa pendidikan tidak cukup hanya melahirkan orang pintar, tetapi juga manusia yang memiliki hati, keberanian, dan kesadaran sosial.

Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu memberi bantuan sesaat, tetapi bangsa yang mampu menciptakan generasi yang berpikir, mandiri, kritis, dan berdaya.

Makanan mungkin mengenyangkan hari ini. Tetapi pendidikan mampu menghidupkan masa depan dalam waktu yang panjang.

Membaca buku bukan hanya menambah pengetahuan. Membaca adalah latihan untuk memahami kehidupan. Dari buku, mahasiswa belajar tentang keresahan. Dari keresahan, lahir pemikiran. Dan dari pemikiran, perubahan mulai tumbuh.

Di tengah dunia yang semakin bising, budaya membaca dan berdiskusi harus tetap hidup. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi bangsa yang masyarakatnya masih mau berpikir.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

“Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah manusia, dan manusia mengubah dunia.”

— Paulo Freire