OPINI — Kami hadir di sini bukan untuk menyemai benih kerusuhan, bukan pula untuk mengusik ketertiban yang selama ini dijaga. Kami hadir sebagai mahasiswa kaum yang oleh sejarah dimandatkan menjadi mata dan telinga bagi realitas sosial. Niat kami sederhana menonton sebuah karya film dan mendiskusikannya dalam koridor intelektual. Namun sungguh sebuah ironi ketika ruang belajar dan ruang berpikir justru dianggap sebagai ancaman keamanan, hanya karena narasi dalam film tersebut berbeda dengan pandangan arus utama.

Kampus seharusnya menjadi laboratorium peradaban. Tempat di mana dialektika tumbuh subur, diskusi tidak dimatikan, dan kebebasan berpikir dirayakan sebagai tanda sehatnya kehidupan intelektual. Jika untuk sekadar menonton dan membedah sebuah karya saja mahasiswa harus berhadapan dengan tembok pelarangan, maka muncul pertanyaan yang mengusik nurani di mana lagi mahasiswa dapat belajar memahami realitas sosial secara kritis jika institusi pendidikan sendiri mulai menutup pintu bagi keberagaman pemikiran?

Mahasiswa bukan musuh bagi stabilitas. Kami adalah bagian dari solusi yang sedang belajar membaca keadaan melalui ilmu pengetahuan. Kami hanya membutuhkan ruang untuk bernapas secara intelektual ruang untuk berdialog tanpa dibayangi rasa takut, stigma, atau intimidasi. Sebab perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dalam dunia akademik. Ia semestinya dijawab dengan argumentasi yang lebih cerdas, dipertemukan dalam meja diskusi, bukan dibungkam dengan pembatasan yang represif.

Kita harus mengingat bahwa kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Dan pendidikan yang sejati tidak pernah lahir dari rahim ketakutan. Pendidikan hanya akan tumbuh dari keberanian memahami yang berbeda, keberanian mempertanyakan yang mapan, serta keberanian menjaga nurani tetap menyala di tengah tekanan.

Membatasi diskusi adalah bentuk kegagalan dalam mendidik. Sebab cahaya pengetahuan tidak lahir dari ruang yang gelap dan terkunci, melainkan dari pikiran yang dibiarkan terbuka. Karena itu, kami percaya ruang belajar bukan ruang ketakutan. Kampus bukan tempat membungkam suara, melainkan tempat menumbuhkan kesadaran.

Rudi Ketua Umum Ipmi Sidrap Cabang Maritengngae